Sabtu, 13 April 2013

Calon Istri buat Ferry


Sore itu, langit Bandung nampak cerah. Di dalam sebuah bus yang penuh sesak, Ferry duduk di jok belakang. Suasana di dalam bus yang tidak nyaman, ditambah bau keringat para penumpang lain membuat Ferry sesekali harus menutup hidung dengan buku yang dipegangnya. Beberapa penumpang nampak tidak sabar dan terdengar menggerutu karena kemacetan yang cukup panjang yang membuat laju bus serasa merayap. Hari ini adalah weekend atau lebih tepatnya long weekend. Menjelang long weekend seperti hari ini dan juga weekend-weekend yang lainnya, Bandung selalu diserbu para pecinta fashion yang tidak ingin ketinggalan mode terkini. Factory-factory outlet yang semakin menjamur adalah sarana pemuas kebutuhan mereka yang satu ini. Tak heran jalan-jalan di Bandung hampir dapat dipastikan selalu macet seperti ini. Ferry tidak ambil pusing dengan kemacetan yang terjadi. Ia sedang asik dengan lamunannya sendiri. Pikirannya melayang pada beberapa peristiwa yang mengganjal pikirannya akhir-akhir ini. Betapa tidak, beberapa teman sekantornya kerap menyinggung-nyinggung soal kapan ia akan menikah. Memang, diantara rekan sekerjanya, hanya tinggal Ferry, Dicky dan Ardhi yang masih lajang, selebihnya mereka sudah menikah bahkan telah dikaruniai putra. Masih segar dalam ingatan Ferry perkataan teman-temannya itu. “Fer, masih betah membujang kau rupanya ya?”, sindir Irwan di sela-sela lunch siang itu, di sebuah kafe di dekat kantor. “Iya, Fer. Katanya segera menyusul setelah aku menikah?” suara Robby sang pengantin baru yang memang baru melangsungkan pernikahannya dua minggu yang lalu. “Kerja udah mapan. Nunggu apa lagi fer?”, yang lain ikut nimbrung. “Memang kamu nggak ingin sepulang kamu dari kantor ada yang menyambutmu, menyiapkan makan, memijitimu kalau kamu capek?” sambung Irwan lagi. Jika sudah begini, biasanya Ferry hanya bisa senyum-senyum kecut menanggapi sindiran-sindiran itu. Apa lagi yang dapat ia lakukan kecuali tersenyum? Baginya menikah tidaklah semudah seperti apa yang dipikirkan teman-temannya. Ada banyak hal yang harus ia penuhi terlebih dahulu sebelum mewujudkan bahtera rumah tangga impiannya, di samping berbagai hal yang harus ia selesaikan sebelum menikah. 

“Aqua, Aqua, Permen, Permen Mas?” suara pedagang asongan itu membuyarkan lamunan Ferry. Bus yang ia tumpangi sekarang benar-benar berhenti. Di depan lampu merah menyala dan sudah dimaklumi bersama, lampu pengatur jalan di perempatan ini kalau sudah menyala merah, maka akan memakan waktu yang lama sebelum berubah menyala kuning dan akhirnya hijau. Saat weekend seperti ini, Ferry ingin cepat-cepat sampai di tempat kosnya untuk memanjakan diri dengan menyewa beberapa film box office yang dapat membantunya menghilangkan kepenatan setelah lima hari kerja, tidur sepanjang siang atau membaca novel-novel yang belum sempat ia baca. Ferry menggeser sedikit duduknya. Dibukanya novel digenggamannya yang baru ia beli kemarin. Matanya menatap deretan huruf yang tertera pada halaman buku itu, namun lamunannya kembali melayang ke masa tiga tahun yang lalu. Ketika itu ia masih duduk di bangku kuliah sebuah universitas di Bandung. Satu pesan orang tuanya yang teramat sangat melekat diingatannya, yaitu agar ia dapat membiayai adik-adiknya kuliah kalau ia sudah bekerja nanti. “Kamu anak sulung dan adik-adikmu banyak. Ibu harap kamu bisa menyekolahkan adik-adikmu itu. Jangan hanya kamu yang pinter?” suara ibu ketika Ferry pulang untuk memberitahukan bahwa tugas akhirnya sudah selesai dan akan disidangkan dua minggu lagi. “Indah ingin kuliah di UGM, Citra ingin kuliah di UI, sedangkan Hedi ingin meneruskan ke STM setelah lulusnya dari SMP. Belum lagi si kembar Rafli-Rafki yang masih SD?” kata Ayah sambil matanya menerawang. “Ayahmu ini sudah tua. Mana sanggup membiayai semua kebutuhan mereka kelak?” sambungnya lagi. “Kamu harus membantu Bapak agar keluarga kita menjadi orang-orang terdidik?” Batin Ferry membenarkan. Kapan lagi dia dapat membalas kebaikan orang tuanya. Untuk menyekolahkannya sampai ke perguruan tinggi, orang tua Ferry harus menjual sawah warisan keluarga. Walau orang tuanya termasuk mampu, Ferry tidak yakin orang tuanya dapat menyekolahkan seluruh anaknya sampai ke perguruan tinggi. Tidak tega rasanya Ferry melihat orang tuanya terpaksa merelakan satu demi satu warisan keluarga dijual untuk membiayai kuliah adik-adiknya. Sekaranglah saatnya Ferry membalas semua itu. Jangan heran kalau gaji yang diterima Ferry setiap bulan selalu habis. Uang tabungan pun tidak pernah menganggur. Uangnya selalu mengalir ke rekening Indah di Yogya dan Citra di Depok, kedua adiknya ini akhirnya bisa masuk universitas favorit pilihan mereka. Lalu kalau ia berumah tangga, bagaimana nasib keluarganya kelak. Mau dikasih makan apa istri dan anaknya nanti. Ferry menarik nafas dalam-dalam sebelum akhirnya menghempaskannya. Melalui hembusan nafasnya, Ferry ingin melepas sebagian beban-bebannya. Oh tidak. Suara batin Ferry demi melihat laki-laki disebelahnya mengeluarkan sebungkus rokok dari dalam saku jaketnya. Dengan santai laki-laki itu mengmbil sebatang rokok dan menyalakannya. Ya Allah, bagaimana ada orang yang rela bukan hanya mencelakakan orang lain tapi dirinya sendiri terjerumus dalam kebinasaan dan kesia-siaan. Ferry hanya bisa menggerutu dalam hati. Tak ada yang dapat ia lakukan kecuali menahan kekesalannya di dada. Semoga orang itu terbuka hati nuraninya untuk tidak mendzolimi lebih banyak orang dengan asap rokoknya. Bisik hatinya kemudian. Ferry akhirnya menutup novel yang dipegangnya lalu memasukkannya ke dalam tas. Percuma saja ia mengalihkan perhatiannya dengan membaca. Nyatanya lamunannya lebih dominan dari pada konsentrasi yang ia butuhkan untuk menelusuri cerita dalam novel itu. Ia menoleh ke jendela. Dilihatnya orang berlalu lalang tenggelam dalam aktivitas masing-masing untuk mengimbangi perputaran waktu dalam kehidupan. Hidup terus berputar sehingga siapapun yang berhenti, putus asa, tak perpengharapan dan menyesali diri akan tergilas olehnya. Seperti kehidupan, roda bus yang ditumpanginya terus melaju dan melaju. Kalau sudah bicara mengenai hakikat hidup, kehidupan dan bagaimana kita mensikapi hidup, pikiran Ferry akan langsung tertuju pada Fuad teman satu kosnya, yang walaupun usianya relatif lebih muda darinya, namun kedewasaannya dalam berfikir tidak dapat diragukan lagi. Suatu saat, Fuad pernah menyinggung masalah konsepsi pernikahan dalam Islam. Betapa pernikahan adalah penyempurna dien seorang muslim, betapa nilai ibadah yang begitu besar akan didapatkan melalui wadah yang satu ini, dan fenomena pergaulan remaja yang tak terkendali menyebabkan siapa saja yang lemah imannya mudah tergelincir, bahkan jatuh pada jurang kenistaan. “Bayangkan saja Fer, ketika seorang suami berangkat kerja di pagi hari dengan niatan mencari nafkah untuk anak dan istrinya, maka jam demi jam yang dilaluinya terhitung sebagai ibadah?” “Bukan hanya itu, kata-kata gombal seorang suami demi menyenangkan hati istrinya pun akan terhitung berpahala?” “Belum lagi jariyah yang akan kita dapatkan dengan mendidik anak yang shaleh dan shalehah. Wah, pokoknya tiada waktu yang kita lewati bersama keluarga yang tidak bernuansa ibadah?” Fuad begitu antusias kalau berbicara masalah yang satu ini. Ia akan betah berjam-jam mengeluarkan segala argumennya dan Ferry harus rela menjadi pendengar setia yang hanya bisa mengangguk-angguk karena domonasi pembicaraan adalah milik Fuad. Ferry setuju-setuju saja dengan argumen temannya itu. Kalau sampai sekarang ia belum memutuskan untuk segera menikah itu bukan karena ia tidak ingin seluruh waktu yang ia miliki bernuansa ibadah. Pernah suatu saat Ferry mengungkapkan alasannya menunda pernikahannya pada Fuad. Dan seperti yang sudah Ferry perkirakan sebelumnya, jawaban Fuad adalah “Allah telah mengatur rejeki setiap makhluk yang ada di muka bumi” Kalau hanya itu Ferry sudah tahu. Tak ia ragukan sedikitpun kekuasaan-Nya. Namun semua harus diperhitungkan dengan matang. Walaupun Allah yang akan menentukan, namun manusia diberi kekuatan untuk berikhitar, mempersiapkan dan merencanakan dengan perhitungan matematis yang  walaupun tidak dapat dijadikan jaminan hasilnya mendekati realistis. “Sudah punya calon?”, tiba-tiba pembicaraan dua orang wanita yang duduk di bangku depan terdengar bagai pertanyaan untuk Ferry. Diperhatikannya dua wanita berjilbab di depan. Ah, ia tidak mengenalnya, bahkan mereka tak sedikitpun menghentikan obrolan yang sesekali diselingi canda itu. Calon? Siapakah yang menjadi istrinya kelak? Ah, Dani tidak mau memikirkannya sampai ia benar-benar siap, sampai kedua adiknya Indah dan Citra lulus kuliah, sampai ia mampu mengontrak rumah yang layak huni.*** 

Epilog :
“Papa, Mama, lihat! Ade sudah bisa menggambar pohon?, Ferry tersenyum melihat Sabrina, putri cantiknya yang bulan depan usianya genap 4 tahun. Seorang wanita berjilbab yang duduk di sebelahnya menghampiri buah hati mereka. “Ade menggambar pohon apa?” Dan demikianlah. Ternyata tidak semua yang direncanakan Ferry berjalan sesuai keinginannya. Ia menikah lima tahun yang lalu dengan seorang wanita yang diperkenalkan Fuad kepadanya. Satu bulan waktu untuk mereka saling mengenal sebelum akhirnya Ferry mengakhiri masa lajangnya. Keputusannya itu bukan tanpa restu kedua orang tua Ferry. Mereka setuju ketika Ferry mengutarakan maksudnya untuk menikah. Indah dan Citra cukup tahu diri untuk tidak selamanya bergantung pada kakaknya yang satu ini. Berbekal IPK yang memuaskan, mereka berburu beasiswa. Alhamdulillah sekarang mereka tidak terlalu memberatkan keuangan Ferry dengan beasiswa yang mereka dapatkan. Paling tidak untuk biaya kuliah selama semester III dan IV, mereka tidak harus meminta kepada Ferry lagi. Sedangkan ketiga adiknya yang lain masih bisa dibiayai ayah ibunya dari gaji ayah sebagai PNS. Tak ada lagi alasan untuk menunda berumah tangga. Semua pencarian dan keinginannya utuk mewujudkan cita-citanya akan ia raih bersama orang-orang yang dicintai dan mencintainya.



(Cerita ini dibuat untuk sahabatku yang menikah 4 tahun yang lalu dengan wanita pilihannya. Tetap semangat bro! semoga senantiasa menjadi keluarga SAMARA)

A Dimmy Zulhifansyah
@adimmyz
Medio Maret 2013

Tidak ada komentar:

Posting Komentar